Jumat, 20 November 2015

GONJANG-GANJING PSSI: ARENA BERMAIN DAN KEKUASAAN (Jurnal Dosen)

GONJANG-GANJING PSSI: ARENA BERMAIN DAN KEKUASAAN
(Analisis Etnografi Media Terhadap Krisis Manajemen Pada
Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia Tahun 2011)
Oleh : Sumarni Bayu Anita, S.Sos, M.A

Abstrak
Tulisan ini berusaha mengungkapkan analisis etnografi media terhadap krisis manajemen yang terjadi di tubuh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pada tahun 2011 lalu. Dengan fokus pada persoalan pemaknaan pesan yang terkandung di dalam berbagai pemberitaan media mengenai tema krisis manajemen PSSI tersebut, dari hasil penelitian ini dipahami bahwa media memberikan peran yang sangat vital dalam mempengaruhi para penggunanya dalam menafsirkan suatu persoalan. Mulai dari efek kognitif (pengetahuan), efek afektif (emosi), dan efek behavioral (sikap), kesemuanya menuntun komunikan media untuk mencerna kondisi krisis manajemen yang tengah dialami oleh PSSI kala itu. Media ikut menjadi perumus pemaknaan, dan pada akhirnya penilaian terakhir komunikan media akan kembali pada aspek kepentingan siapa yang dibela. Dipahami bahwa, persoalan sepakbola di tanah air bukan sekedar permainan menendang bola, namun lebih jauh dari itu, ini dapat dijadikan perebutan kekuasaan yang lebih sarkastik di ranah sosial politik.

A. PENDAHULUAN
A.1. Latar Belakang
Dalam bukunya Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1: Tanah di Bawah Angin (2011), Anthony Reid tegas mengatakan bahwa manusia Asia Tenggara, termasuk Indonesia di dalamnya sebagai Homo Ludens, yakni manusia yang bermain-main. Hal ini terlihat dari bagaimana masyarakatnya melakukan pesta-pesta dan menggunakan waktu santai. Makanan dan iklim yang lunak memberikan waktu bagi mereka untuk itu semua. Reid menambahkan, bahwa proporsi masyarakat Asia Tenggara sebagai homo ludens sangat besar, bahkan mungkin paling besar dibandingkan dengan masyarakat dari wilayah lain di dunia ini. Meski demikian, Onghokham yang juga memberikan kata pengantar dalam buku itu ikut menggarisbawahi pernyataan itu dengan perihal keberadaan awal sepak bola di Asia Tenggara. Masyarakat di Indonesia sendiri, terutama di daerah Maluku, telah mengenal sepak bola dengan sebutan olah raga sepak raga atau sepak takraw itu sejak abad ke-16. Sepak takraw sendiri adalah permainan menendang bola yang bolanya dibuat dari rotan raut yang mirip keranjang. Satu orang, atau selingkar orang, akan memainkan bola itu agar tetap di udara dengan menyepaknya dengan kaki atau lutut, lebih istimewa lagi dengan tapak kaki bagian dalam. Jenis bola kaki ini yang dalam bahasa Melayu disebut sepak raga, di Luzon disebut sipa, di Birma disebut chinfohn, dan sebutan Thai, takraw, kini telah diterima sebagai nama internasional untuk olahraga tersebut (Reid, 2011: 232-233).
Apabila kita membandingkan olahraga di Asia Tenggara yang berasal dari Barat, maka akan terlihat bahwa jika di Barat itu merupakan olahraga elite maka di Asia Tenggara itu justru menjadi arena santai bagi masyarakat umum (Onghokham dalam Reid, 2011: xxvi). Artinya, ada implikasi sosial-politik yang membedakan antara masyarakat Asia Tenggara dan masyarakat Eropa dalam menikmati olahraga. Sepak takraw sendiri berdasarkan sejarahnya, bukanlah olahraga yang dijadikan ajang perlombaan langsung. Namun, jika penguasa lokal tidak hadir dalam pesta, olah raga atau “ngabekten” kraton, maka dia akan dicurigai sebagai pemberontak. Jadi jelas, keikutsertaan serta peran seseorang di dalam acara tersebut ikut menentukan kedudukan sosial-politik dalam kerajaan.
Kenyataan masa lalu inilah yang akan coba dibawa untuk dianalisis dan dibandingkan dengan gonjang-ganjing yang kini melanda Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pada tahun 2011 lalu. Apakah berlarut-larutnya permasalahan, memang karena ada masalah yang cukup penting hingga sulit dicari jalan keluarnya dengan segera. Ataukah hal ini karena memang masyarakat Indonesia, yang juga merupakan masyarakat Asia Tenggara adalah homo ludens yang otomatis memiliki karakteristik sosial-politik untuk tetap “bermain-main” meski krisis permasalahannya bahkan sudah berada di ujung tanduk.

A.2. Etnografi Media
Etnografi muncul dari Antropologi Budaya. Etno berarti orang atau folk, sedangkan grafi mengacu pada penggambaran sesuatu. Oleh karena itu etnografi berarti suatu budaya dan pemahaman cara hidup orang lain dari sisi the native’s point of view. Selain itu ada juga yang menyebutkan bahwa etnografi adalah salah satu jenis etnologi. Etnologi adalah cabang antropologi yang mempelajari dinamika budaya, yaitu proses perkembangan dan perubahan budaya. Dalam aspek penelitian, etnografi adalah pendekatan empiris dan teoretis yang bertujuan mendapatkan deskripsi dan analisis mendalam tentang kebudayaan berdasarkan penelitian lapangan (fieldwork) yang intensif. Menurut Geertz (1973) etnografi bertugas membuat thick descriptions (pelukisan mendalam) yang menggambarkan ‘kejamakan struktur-struktur konseptual yang kompleks’, termasuk asumsi-asumsi yang tak terucap dan taken-for-granted (yang dianggap sebagai kewajaran) mengenai kehidupan. Seorang etnografer memfokuskan perhatiannya pada detil-detil kehidupan lokal dan menghubungkannya dengan proses-proses sosial yang lebih luas (Adi, 2011).
Kerja seorang peneliti dengan metode ini, termasuk dalam etnografi media, sesuai dengan analogi yang dikemukakan Griffin adalah bagaikan seorang ahli geografi yang melakukan pemetaan. Pemetaan yang dilakukan peneliti adalah pemetaan sosial. Dalam melakukan pemetaan peneliti berupaya untuk bekerja holistik, terkontekstualisasi, menggunakan perspektif emik, serta menggunakan perspektif yang bersifat tidak menyatakan pendapat (nonjudgemental orientation) atas realitas yang diamati. Perspektif holistik berkenaan dengan asumsi bahwa seorang peneliti harus memperoleh suatu gambaran yang lengkap dan komprehensif tentang kelompok sosial yang diteliti. Dalam pengkontekstualisasian data meliputi pengamatan ke dalam suatu perspektif yang lebih besar, misalnya dalam konteks politik, sejarah, ekonomi.
Berkenaan dengan perspektif emik, maka peneliti dalam mengumpulkan data akan berangkat dari pandangan masyarakat setempat, meski tanpa harus mengabaikan analisis ilmiah si peneliti sendiri, sedangkan orientasi nonjudgemental  merupakan orientasi yang mendorong peneliti mengadakan eksplorasi tanpa melakukan penilaian yang tidak sesuai dan tidak perlu. Oleh karena itu peneliti harus berusaha untuk melihat budaya yang berbeda dengan budaya dia berasal tanpa membuat penilaian tentang praktek-praktek yang diamatinya itu. Dengan kata lain harus meninggalkan tindakan etnosentris.

A.3. Metodologi Penelitian
Berdasarkan tulisan Creswell (2010), maka penelitian ini termasuk penelitian dengan pendekatan kualitatif dengan strategi penelitiannya adalah analisis etnografi media secara studi kasus. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha mengungkapkan analisis etnografi media yang terjadi dalam krisis manajemen pada tubuh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pada tahun 2011 lalu. Dengan fokus pada persoalan pemaknaan pesan yang terkandung di dalam berbagai pemberitaan media mengenai tema krisis manajemen PSSI tersebut, dari hasil penelitian ini ingin diketahui bagaimana media memberikan peran yang dalam mempengaruhi para penggunanya dalam menafsirkan suatu persoalan. Data primer dari penelitian ini sendiri adalah kumpulan pemberitaan yang muncul di media yang berkaitan tentang krisis manajemen pada tubuh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang muncul selama 3 (tiga) bulan tepatnya pada bulan April 2011 sampai dengan bulan Juni 2011 lalu. Dari kumpulan data atas berita tersebut lalu diamati dan kemudian dilakukan analisis sesuai metode yang digunakan yakni metode etnografi media.

B. PEMBAHASAN
B.1. 1001 Cerita Tentang PSSI
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, disingkat PSSI, awalnya bernama Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia. PSSI yang dibentuk pada tanggal 19 April 1930 di Yogyakarta adalah organisasi induk yang bertugas mengatur kegiatan olahraga sepak bola di Indonesia. Pendiri sekaligus ketua umum pertamanya adalah Ir. Soeratin Sosrosoegondo. Sedangkan Ketua Umum PSSI saat ini, yaitu Nurdin Halid, namun kepemimpinannya dibekukan oleh FIFA dan saat ini kepemimpinan PSSI dipimpin oleh Agum Gumelar yang dipilih oleh Sepp Blatter sebagai Ketua Komite Normalisasi di tubuh PSSI. PSSI bergabung dengan FIFA pada tahun 1952, kemudian dengan AFC pada tahun 1954.
PSSI menggelar kompetisi Liga Indonesia setiap tahunnya, dan sejak tahun 2005, diadakan pula Piala Indonesia. Sebagai organisasi olahraga yang dilahirkan di zaman penjajahan Belanda, kelahiran PSSI betapapun terkait dengan kegiatan politik menentang penjajahan. Jika meneliti dan menganalisa saat-saat sebelum, selama dan sesudah kelahirannya, sampai 5 tahun pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, jelas sekali bahwa PSSI lahir karena dibidani politisi bangsa yang, baik secara langsung maupun tidak, menentang penjajahan dengan strategi menyemai benih-benih nasionalisme di dada pemuda-pemuda Indonesia. Namun kini, sepertinya benih-benih nasionalisme itu sudah luntur bahkan kemudian hilang entah kemana.
Sejak era Ir. Soeratin Sosrosoegondo hingga Nurdin Halid, PSSI telah melakukan 14 kali pergantian ketua umum. Adapun nama-nama mereka adalah sebagai berikut:
1.        Soeratin Sosrosoegondo (1930-1940) à10 tahun
2.        Artono Martosoewignyo (1941-1949) à8 tahun
3.        Maladi (1950-1959) à9 tahun
4.        Abdul Wahab Djojohadikoesoemo (1960-1964) à 4 tahun
5.        Maulwi Saelan (1964-1967) à3 tahun
6.        Kosasih Poerwanegara (1967-1974) à7 tahun
7.        Bardosono (1975-1977) à2 tahun
8.        Moehono (1977) à 0 tahun
9.        Ali Sadikin (1977-1981) à 4 tahun
10.    Sjarnoebi Said (1982-1983) à1tahun
11.    Kardono (1983-1991) à8 tahun
12.    Azwar Anas (1991-1999) à8 tahun
13.    Agum Gumelar (1999-2003) à4 tahun
14.    Nurdin Halid (2003-2011) à8 tahun

Semua permasalahan di tubuh PSSI saat itu, ditengarai berawal dari keserakahan atas kekuasaan seorang Nurdin Halid yang kemudian berkembang menjadi persoalan perebutan bursa calon ketua umum PSSI yang baru. PSSI di masa kepemimpinan Nurdin Halid memiliki beberapa hal yang dianggap kontroversi, antara lain mudahnya Nurdin Halid memberikan ampunan atas pelanggaran, kukuhnya Nurdin Halid sebagai ketua umum meski dia dipenjara, isu tidak sedap yang beredar pada masa pemilihan ketua umum tahun 2010, dan reaksi berlebihan atas diselenggarakannya Liga Primer Indonesia (LPI). Keserakahan itu dipahami karena memang sistem menciptakannya demikian. Data nama-nama ketua umum PSSI di atas adalah bukti, bila periode jabatan ketua umum PSSI tidak terbatas bahkan pernah hingga 10 tahun. Pasal 17 ayat (1) Statuta PSSI hanya menyatakan, Pengurus Pusat adalah badan/institusi kepemimpinan tertinggi organisasi di tingkat pusat dengan masa jabatan 4 (empat) tahun.” Tidak ada pengaturan tentang pembatasan mengenai berapa kali periode sang ketua umum dapat berada di tampuk puncak kekuasaan. Tidak adanya peraturan yang jelas inilah, membuat Nurdin Halid kemudian over confidence untuk terus melanjutkan kepemimpinannya yang kacau balau meski sudah 8 tahun menjabat. Hal inilah juga yang diduga menjadi titik tolak gonjang-ganjing PSSI 2011 dan masih bergulir hingga kini.

B.2. Krisis PSSI 2011 di Mata Media
Media memang tidak dapat melepaskan diri dari berita sebagai salah satu genre besar yang ada, selain olah raga, reality TV, dan sinetron/soap opera. Sosiolog Geye Tuchman, dalam bukunya Making News (1978) menyatakan bahwa berita merupakan konstruksi sosial terhadap realitas (Winarso, 2005: 153). Buku ini didasarkan pada pengamatan partisipan di ruang berita media dan wawancara dengan orang-orang berita selama 10 tahun. Tindakan membuat berita, kata Tuchman, merupakan tindakan mengkonstruksi realitas itu sendiri dari sebuah gambaran realitasnya. Berita hanyalah institusi yang dilegitimasi dan hal itu melegitimasi status quo. Tuchman juga menghubungkan profesionalisme berita dan pengorganisasian berita dengan kemunculan kapitalisme korporasi. Ia menyatakan bahwa berita adalah sebuah sumberdaya sosial yang mengkonstruksi batas-batas suatu pemahaman analitik mengenai kehidupan masa kini.
Pemaparan teori ini untuk menjelaskan latar belakang pemilihan berita yang dilakukan oleh media baik cetak maupun elektronik dalam melakukan kebijakan pemberitaan di berbagai program berita mereka, termasuk mengenai krisis PSSI 2011. Berdasarkan data dari berbagai sumber, berikut ini merupakan tabel perkembangan peristiwa krisis PSSI 2011:
Tabel 1: Tabel Perkembangan Peristiwa Krisis PSSI 2011

Tanggal
Peristiwa
1 April 2011

FIFA memutuskan pembentukan Komite Normalisasi (KN) untuk mengambil alih kepengurusan Nurdin Halid di PSSI. Keputusan ini dipublikasikan di situs resmi FIFA pada tanggal 4 April 2011. Komite ini dipimpin oleh Agum Gumelar dan dibantu tujuh anggota, yakni Djoko Drijono (CEO BLI), Hadi Rudiatmo (Ketua Persis Solo), Sukawi Sutarip (Ketua Pengprov PSSI Jawa Tengah), Siti Nuzanah (Direktur Arema), Samsul Ashar (Ketua Persik Kediri), H. Satim Sofyan (Ketua Pengprov PSSI Banten), Dityo Pramono (Ketua PSPS Pekanbaru). Lima nama terakhir merupakan anggota Kelompok 78.
FIFA juga melarang empat nama, yakni Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, Arifin Panigoro, dan George Toisutta untuk maju pada pemilihan pengurus PSSI.
Tugas KN:
·       Mengatur pelaksanaan pemilihan pengurus baru PSSI periode 2011-2015 paling lambat 21 Mei 2011.
·       Menempatkan Liga Primer Indonesia di bawah kendali PSSI atau membubarkannya.
·       Menjalankan tugas keseharian PSSI.
11 April 2011

KN bertemu dengan pemilik suara PSSI yang mayoritas dihadiri Kelompok 78. Kedua pihak sepakat untuk menggelar Pra Kongres pada 14 April 2011.
12 April 2011
Pendaftaran bakal calon Ketua Umum PSSI, Wakil Ketua Umum PSSI, dan Anggota Komite Exco PSSI periode 2011-2015 resmi dibuka.
14 April 2011

Pertemuan dengan pemilik suara di Hotel Sultan, Jakarta berubah jadi Kongres PSSI. Selain membentuk Komite Pemilihan (KP), kongres “dadakan” ini juga membentuk Komite Banding Pemilihan (KBP).
19 April 2011

Ketua KN bertolak ke Zurich, Swiss menemui Presiden FIFA, Sepp Blatter. Dalam pertemuan ini, Agum melaporkan hasil pertemuan dengan pemilik suara pada 14 April 2011. Agum juga berusaha melobi FIFA agar tiga kandidat, Arifin Panigoro, George Toisutta, dan Nirwan Bakrie diizinkan mengikuti pemilihan pengurus PSSI periode 2011-2015.
21 April 2011

FIFA mengirim surat kepada KN. Dalam suratnya, FIFA menegaskan agar Nurdin Halid, Arifin Panigoro, George Toisutta, dan Nirwan Bakrie tidak diperkenankan maju pada bursa pemilihan PSSI. FIFA juga tidak mengakui KP yang dibentuk pada pertemuan 14 April 2011. Sedangkan KBP yang terdiri atas Umuh Muchtar, Ahmad Riyadh dan RioDanamore tetap diperkenankan menjalankan tugasnya. Keputusan ini langsung menuai protes dari kubu Arifin Panigoro dan George Toisutta.
23 April 2011

Pendaftaran bakal calon Ketua Umum PSSI, Wakil Ketua Umum PSSI dan Anggota Exco PSSI periode 2011-2015 resmi ditutup. Meski dilarang FIFA, kubu Arifin Panigoro dan George Toisutta tetap menyerahkan berkas pendaftarannya ke sekretariat PSSI.
29 April 2011
KN yang juga berfungsi sebagai KP mengumumkan hasil verifikasi terhadap bakal calon pengurus PSSI 2011-2015. KN menolak memverifikasi berkas pendaftaran Arifin Panigoro dan George Toisutta.
3 Mei 2011
Pendukung Arifin Panigoro dan George Toisutta menggelar demontrasi di depan kantor KONI. Mereka memprotes keputusan KN yang menolak pencalonan kedua kandidat tersebut.
5 Mei 2011

Ketua KBP, Ahmad Riyadh mengaku telah menerima berkas banding Arifin Panigoro dan George Toisutta. Pihaknya berniat memprosesnya bersama berkas lainnya mulai 9 Mei 2011.
6 Mei 2011

FIFA melarang Arifin Panigoro dan George Toisutta mengajukan banding. FIFA bahkan mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada Indonesia bila tetap memproses banding kedua kandidat tersebut.
9 Mei 2011

Kelompok 78 yang diwakili Wisnu Wardana, Usman Fakaubun, Hadiyandra, Imron Abdul Fatah, dan Sarluhut Napitupulu meminta Agum Gumelar mundur dari jabatannya sebagai Ketua KN. Mereka juga mengancam mengubah Kongres PSSI 20 Mei 2011 menjadi ajang untuk melengserkan Agum.
12 Mei 2011
KBP akhirnya mengabulkan banding Arifin Panigoro dan George Toisutta. Keduanya dianggap boleh mencalonkan diri saat Kongres PSSI 20 Mei 2011. FIFA menyetujui usulan reshuffle KN. FIFA akhirnya mengganti lima anggota KN, yakni Sukawi Sutarip, Siti Nizanah, Samsul Ashar, Satim Sofyan, dan Dityo Pramono. Mereka digantikan oleh Rendra Krisna (Presiden Kehormatan Arema FC), Sumaryoto (Mantan Ketua Pengprov PSSI Jawa Tengah), Baryadi (Ketua Pengprov PSSI Sumatera Selatan), dan Sinyo Aliandoe (Mantan Pelatih Timnas Indonesia).
20 Mei 2011
Kongres PSSI yang dilaksanakan di ruang kongres, Ballroom Hotel Sultan, Senayan bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2011 berakhir kisruh. Ketua Komite Normalisasi, sekaligus pimpinan sidang, Agum Gumelar terpaksa menutup kongres tanpa menghasilkan keputusan apapun, lantaran para peserta tak bosan melontarkan interupsi. Praktis, pemilihan Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, serta Anggota Komite Exco PSSI periode 2011-2015, gagal dilaksanakan.
17 Juni 2011
Kedatangan Wakil Presiden FIFA, Ali bin Al Hussein ke Indonesia membawa angin segar untuk sebuah solusi kisruh PSSI. Pangeran dari Yordania itu telah bertemu dengan semua pihak yang ikut terlibat dalam pertikaian pemilihan kepengurusan PSSI. Al Hussein telah berbicara dengan George Toisutta dan Arifin Panigoro serta kelompok pendukung Kelompok 78 serta Ketua Komite Normalisasi PSSI Agum Gumelar dan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng.

Dari tabel di atas terlihat babak baru dari krisis PSSI 2011. Bila awalnya adalah munculnya kemuakan pecinta sepak bola Indonesia terhadap Nurdin Halid usai kekalahan Tim Garuda Indonesia di ajang AFC. Namun usai Nurdin Halid sukses digulingkan, muncul krisis berikutnya, yakni perebutan tahta ketua umum PSSI periode 2011-2015. Komite Normalisasi telah mengumumkan daftar nama calon yang lolos, dan diantara 18 nama itu, ada nama yang telah diputuskan FIFA tak boleh lagi ikut pencalonan dinyatakan tak lolos. Berikut ini daftar nama calon Ketua Umum PSSI 2011-2015 yang dikeluarkan oleh Komite Normalisasi:
1.      Adhan Dambea
2.      Adhyaksa Dault
3.      Diza Rayid Ali
4.      Djohar Arifin Husin
5.      Wahidin Halim
6.      George Toisutta (tidak lolos)
7.      Agusman Effendi
8.      Syarif Bastaman
9.      Oesman Sapta Erwin Aksa
10.  Mohammad Syaharuddin
11.  P Sudono Waluyanto
12.  Sukimin
13.  Yesaya Buinei
14.  Arifin Panigoro (tidak lolos)
15.  Muhidjar
16.  Rahim Soekasah
17.  Nirwan Bakrie (tidak lolos)
18.  Joko Driyono (tidak lolos)

Nyatanya cukup banyak nama yang muncul sebagai calon Ketua Umum PSSI 2011-2015 untuk menggantikan Nurdin Halid. Namun dari 18 nama di atas, bila kita melek terhadap media, hanya beberapa nama saja yang terus-menerus disebut. Dan kebetulan nama-nama tersebut adalah mereka yang dinyatakan tidak lolos oleh FIFA. Mereka adalah George Toisutta, Arifin Panigoro, dan Nirwan Bakrie.
 Ketiga nama ini memang memiliki profil keunggulan masing-masing dalam memenangkan bursa ketua Umum PSSI 2011-2015, yakni George Toisutta yang mantan Panglima Kostrad, Arifin Panigoro yang pencetus LPI, dan Nirwan Bakrie yang pengusaha sukses dan juga adik dari Aburizal Bakrie. Namun dengan menampikkan nama-nama lain juga tidaklah etis. Sebuah kartun kritis yang muncul di salah satu media olahraga negeri ini seolah menggambarkan dengan jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi di kancah perebutan kursi Ketua Umum PSSI tersebut.
Dari gambar kartun di atas, kita dapat memaknai bahwa media seringkali bersikap kritis atas permasalahan yang ada di tubuh PSSI. Namun, seperti yang dijelaskan di awal tulisan ini, sekritis apapun sentilan yang dilontarkan oleh media, sikap homo ludens masyarakat Indonesia nyatanya tetap tampak dalam gonjang-ganjing PSSI 2011. Masyarakat awam yang melihat kekisruhan PSSI tampaknya sudah jengah bahkan tidak peduli dengan apa yang terjadi. Diam namun mengamini bahwa semua yang terjadi di bursa pemilihan Ketua Umum PSSI tak akan pernah lepas dari money politics. Begitu pula dengan mereka yang terlibat langsung dalam proses pemilihan Ketua Umum PSSI tersebut. Berteriak atas nama rakyat dan upaya perbaikan persepakbolaan negeri, namun di sisi lain, tentu ada bagian (baca: uang) yang ikut diperjuangkan untuk masuk ke dalam kantong masing-masing pemilik suara.
Rasa miris memang kerap melanda nurani kita saat melihat gonjang-ganjing PSSI yang tak kunjung usai. Optimisme yang sempat muncul untuk Kongres PSSI yang dilaksanakan di Solo, Jawa Tengah pada 9 Juli 2011 lalu yang diharapkan sukses. Harus selalu ada di sanubari rakyat Indonesia dan para pencinta sepakbola pada khususnya. Bila kongres berjalan lancar, berarti kepengurusan PSSI akan terbentuk sehingga  PSSI tidak lagi hanya berkutat pada silang sengketa kursi kepemimpinan. Kita tentunya rindu melihat PSSI mampu mengukir prestasi di ajang sepakbola ASEAN, Asia dan bahkan dunia. Kita mampu untuk itu. Kuncinya adalah pengurus PSSI yang terbentuk benar-benar orang yang ingin memajukan persepakbolaan nasional, bukan yang menjadikan PSSI tunggangan untuk kepentingan kelompoknya saja. Bukan yang hanya menganggap bahwa sepak bola Indonesia sekedar arena bermain karena mereka adalah homo ludens seperti yang dikatakan Reid untuk makin mengukuhkan mitos “kesantaian” bangsa ini dalam menghadapi setiap masalah yang ada.

C. PENUTUP
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dari hasil penelitian ini dipahami bahwa media memberikan peran yang sangat vital dalam mempengaruhi para penggunanya dalam menafsirkan suatu persoalan. Mulai dari efek kognitif (pengetahuan), efek afektif (emosi), dan efek behavioral (sikap), kesemuanya menuntun komunikan media untuk mencerna kondisi krisis manajemen yang tengah dialami oleh PSSI kala itu. Media ikut menjadi perumus pemaknaan, dan pada akhirnya penilaian terakhir komunikan media akan kembali pada aspek kepentingan siapa yang dibela. Dipahami bahwa, persoalan sepakbola di tanah air bukan sekedar permainan menendang bola, namun lebih jauh dari itu, ini dapat dijadikan perebutan kekuasaan yang lebih sarkastik di ranah sosial politik.

Daftar Pustaka
Adi, Tri Nugroho. 20 Agustus 2011. Etnografi Dalam Komunikasi. https://sinaukomunikasi.wordpress.com/2011/08/20/etnografi-dalam-komunikasi/. Diakses tanggal 4 Januari 2015.
Anonim. “Daftar Nama Bakal Calon Ketua Umum PSSI 2011-2015”. http://www.blogg3r.co.cc/2011/04/daftar-nama-bakal-calon-ketua-umum-pssi.html. Diakses tanggal 16 Juni 2011.
Anonim. “Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia”, http://id.wikipedia.org/wiki/Persatuan_Sepak_Bola_Seluruh_Indonesia. Diakses tanggal 16 Juni 2011.
Anonim. 13 Mei 2011. “Kronologi Kasus PSSI Jilid II.” http://pasarumum.com/kronologi-kasus-pssi-jilid-ii/. Diakses tanggal 16 Juni 2011.
Cresswell, John W. 2010. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nunk. 26 Mei 2011. “Karikatur Kisruh Kongres PSSI 2011.” http://kartunmania.com/2011/05/karikatur-kisruh-kongres-pssi-2011/. Diakses tanggal 16 Juni 2011.
Reid, Anthony. 2011. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1: Tanah di Bawah Angin. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Winarso, Heru Puji. 2005. Sosiologi Komunikasi Massa. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

Catatan: Artikel di atas sudah dimuat dalam Jurnal Ilmu Komunikasi "PUBLISITAS" Volume 5, Nomor 5, November 2015 dengan Penerbit STISIPOL Candradimuka Palembang

About